BeritaJawa TimurNasionalOlahragaPeristiwa

Tragedi Berdarah Stadion Kanjuruhan Urutan Kedua Dunia, Ini Kronologinya

6046
×

Tragedi Berdarah Stadion Kanjuruhan Urutan Kedua Dunia, Ini Kronologinya

Sebarkan artikel ini
Kepulan Asap Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Jawa Timur, foto. Istimewa

JAWA TIMUR – Korban meninggal akibat kerusuhan suporter kala laga Arema FC melawan Persebaya masih terus bertambah. Dinas Kesehatan kabupaten Malang Jawa Timur sendiri melansir jika korban meninggal terakhir berjumlah 125 jiwa termasuk dua anggota kepolisian yang turut menjadi korban.

Kerusuhan ini sendiri kemudian menjadi rekor catatan terburuk kedua dunia tragedi mematikan di dunia sepak bola.

Kerusuhan dengan korban paling banyak peringkat pertama kala kerusuhan terjadi di stadion Nacional, Lima negara Peru pada tahun 1964.

BACA JUGA:  8 Kontainer Minyak Goreng Siap Ekspor ke Timor Leste Berhasil Digagalkan Polisi

Total korban jiwa melayang yang resmi tercatat sebanyak 328 jiwa walaupun kemudian banyak yang melaporkan jika sebenarnya korban jiwa lebih dari angka itu.

Lalu, posisi kedua awalnya terjadi di Stadio Accra Sprots, Ghana pada 2001 silam lantaran ada 126 orang yang tewas. Namun, insiden tersebut kini turun ke posisi ketiga, sebab kericuhan di Kanjuruhan telah menjadi peristiwa sepakbola paling mematikan kedua di dunia.

Kerusuhan di stadion Kanjuruhan sendiri berawal ketika peluit panjang tanda pertandingan antara Arema FC dan Persebaya ditiup pada 1 Oktober 2022.

Skor saat itu Persebaya berhasil menaklukan Arema FC dengan skor 3 -2. Ini adalah kemenangan pertama Persebaya melawan Arema FC setelah 23 Tahun lamanya.

BACA JUGA:  20 Polisi Diduga Langgar Etik Terkait Kasus Tragedi Kanjuruhan

Stadion Kanjuruhan pun lantas bergemuruh dengan teriakan – teriakan suporter yang kecewa.

Sesaat setelah para pemain masuk kedalam ruang ganti baju, para suporter yang turun kelapangan pun tidak terkendali. Kericuhan pun terjadi.

Para oknum suporter tersebut merusak fasilitas stadion, bahkan kemudian kendaraan polisi menjadi sasaran amuk suporter.

Aparat sendiri telah berusaha melakukan tindakan meredam emosi suporter, namun sayangnya gelombang suporter lebih unggul dari jumlah aparat.

Aparat kemudian mengambil langkah represif, melepaskan tembakan gas air mata. Namun disinilah diduga semua menjadi tambah kacau.

Asap gas air mata yang mereka lontarkan mengarah ke tribune dan mengepul di sisi selatan. Hal ini membuat banyak suporter sesak nafas dan jatuh pingsan.

BACA JUGA:  11 Orang Diduga Provokator Pembakar Pos Satpam dan Alat Berat PT BRS Diamankan Polisi

Alhasil, banyak suporter yang terjatuh kemudian terinjak – injak karena kepanikan.

“Para penonton turun ke tengah lapangan, dan berusaha mencari para pemain untuk menanyakan kenapa sampai kalah, atau melampiaskan. Karena itu, pengamanan melakukan upaya-upaya pencegahan, dan melakukan pengalihan supaya mereka tidak masuk ke dalam lapangan,” ucap Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta saat berada di Mapolres Malang, pada Minggu (2/10/2022) dini hari seperti dikutif dari beeoneinfo.com

Nico menyebutkan, saat itu timnya mencoba memberikan imbauan dengan cara persuasif. Namun, cara itu tak berhasil. Alhasil, massa kian beringas menyerang dan merusak mobil kepolisian.

BACA JUGA:  Baru Setahun Menikah Seorang Suami Tega Menggarap Anak Kandung Istri Yang Berusia 6 Tahun

“Upaya pencegahan sampai dilakukan gas air mata, karena sudah merusak mobil (polisi) dan akhirnya gas air mata disemprotkan,” tuturnya kembali.

Dari sanalah akhirnya ribuan Aremania yang masih berada di tribun panik dan mencari pintu keluar.

Puncaknya ketika mereka berebut menuju pintu 10 dan 12 sehingga terjadi penumpukan dan terjadi tragedi ratusan orang meninggal dunia.

Dilansir dari bola.okezone.com, sekitar 40 ribu suporter menonton pertandingan itu.

BACA JUGA:  Virus Corona Berakhir, Warga Gunung Agung Syukuran Potong Kerbau

Namun suporter yang turun kelapangan dan mengamuk karena kalah hanya berjumlah 3 ribuan saja.

“Dari 40.000 penonton yang hadir, kurang lebih tidak semuanya anarkis tidak semuanya kecewa, hanya sebagian yaitu sekitar 3 ribuan yang masuk turun ke tengah lapangan. Sedangkan yang lainnya tetap mereka yang di atas,” kata Kapolda Jawa Timur. (Tp/beeoneinfo/Okezon)

BACA JUGA:  Destinasi Wisata Goa Kacamata Dilanda Longsor, Masyarakat Dan Wisatawan Diminta Waspada

BACA JUGA:  Perjalanan Gemilang Indonesia Di Sea Games 2023: Momen-momen Heroik dan Prestasi Yang Mengejutkan

BACA JUGA:  Dibalik Jeruji Besi Tiga Warga Binaan Mengukir Prestasi Diajang Turnamen IBA MMA