ArtikelBeritaBerita UtamaJakartaNasional

Melindungi Masa Depan Anak: Evaluasi Dispensasi Perkawinan dan Upaya Peningkatan Perlindungan Anak Indonesia

11159
×

Melindungi Masa Depan Anak: Evaluasi Dispensasi Perkawinan dan Upaya Peningkatan Perlindungan Anak Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pernikahan Dini
Foto: Ilustrasi Pernikahan Dini

Hakim yang memiliki sertifikat hak anak cenderung mempertimbangkan hak-hak anak dalam putusan mereka. Namun, norma gender dan norma sosial yang tidak selalu sejalan dengan pemenuhan hak anak masih mempengaruhi keputusan hakim.

Selain melibatkan perspektif hakim, studi ini juga melibatkan perspektif anak dan orang tua. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Sukabumi pada periode Juni hingga Agustus 2022.

BACA JUGA:  SUGENG: Setelah Dipriksa BPK RI Anggaran MaMin Setdakab BU Tidak Ada Masalah dan Sudah Mendapat Predikat WTP
BACA JUGA:  Curi Mesin Kapal di Pasar Palik Dua Pemuda Diamankan Polres Bengkulu Utara

Studi ini menganalisis sejauh mana anak-anak memiliki ruang aman untuk menyampaikan pendapat mereka di hadapan hakim tanpa tekanan.

Selain itu, studi ini juga mengevaluasi layanan yang diterima oleh anak setelah permohonan dispensasi disetujui, serta pemahaman anak dan orang tua mengenai dampak perkawinan anak.

Dalam konteks ini, penting untuk mencatat bahwa anak-anak belum sepenuhnya memahami dampak perkawinan terhadap kehidupan mereka. Resi Ajhari, seorang pendidik sebaya dari Kabupaten Sukabumi, menyampaikan upayanya dalam memberikan pemahaman kepada teman-teman sebaya di sekolah dan desanya tentang dampak perkawinan anak.

Dalam beberapa kasus, perlu beberapa kali penjelasan agar teman-teman yang bermaksud menikah pada usia anak dapat memahaminya dan membatalkan niat tersebut.

BACA JUGA:  Bursa Bakal Calon Wali Kota Bengkulu Bergerak, Mantan Bupati Kaur Menarik Perhatian sebagai Calon Walkot

Selain Plan Indonesia, Koalisi 18+ dan Wahana Visi Indonesia juga turut menyampaikan hasil penelitian mereka terkait dispensasi perkawinan anak.

Koalisi 18+ menganalisis secara mendalam putusan dispensasi berdasarkan dokumen keputusan perkara dispensasi di pengadilan negeri.

Sementara itu, Wahana Visi Indonesia menganalisis faktor penentu keberhasilan menunda pernikahan hingga usia di atas 18 tahun dengan membandingkan orang yang menikah pada usia anak dan yang tidak.

BACA JUGA:  DVI Polda Kalsel Terima 16 Jenazah Untuk Diidentifikasi
BACA JUGA:  BPDAS Ketahun, Penyelesaian Persoalan Aset Di Lebong Kita Barter Saja

Berdasarkan berbagai studi ini, terlihat perlunya evaluasi implementasi Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin (PERMA 5/2019).

Plan Indonesia mendorong agar hakim yang memutuskan perkara dispensasi kawin memiliki sertifikat hakim anak dan mempertimbangkan perspektif anak serta kesetaraan gender.

BACA JUGA:  Wabup Kaur Ucapkan Terima Kasih Kepada Kementerian Pariwisata Dan Gubernur Bengkulu

Selain itu, Mahkamah Agung perlu meningkatkan jumlah dan kualitas hakim melalui pelatihan dan bimbingan teknis tentang perempuan berhadapan dengan hukum atau bersertifikat sistem peradilan pidana anak.

Harapannya, di masa depan, semua hakim yang memutuskan permohonan dispensasi kawin sudah memiliki kualifikasi sebagai hakim anak. **

 

Sumber: KemenPPPA