JAKARTA, TIRTAPOS.com – Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, telah mengurangi bahkan menyetop impor komoditas energi dari Rusia sebagai bentuk sanksi atas perang yang dimulai negara tersebut di Ukraina.

Sebagai dampak dari hal ini, banyak negara tak ayal mencari alternatif sumber pasokan, termasuk dari Indonesia.

Indonesia bisa dikatakan menjadi salah satu negara yang dianggap berpotensi menggantikan beberapa komoditas asal Rusia yang tersendat.

Apa saja ‘harta karun’ RI yang bisa berpotensi menggantikan pasokan komoditas dari Rusia? Berikut ulasannya.

                                  Batu Bara

                    Batu Bara Indonesia

 

Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar ketiga dunia, setelah China dan India.

Pada 2021 produksi batu bara Indonesia tercatat mencapai 614 juta ton, naik dari 2020 sebesar 561 juta ton.

Dan pada 2022, produksi batu bara RI bahkan ditargetkan naik 8 persen menjadi 663 juta ton.

Sementara Rusia, tercatat sebagai produsen batu bara terbesar keenam di dunia.

Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, Rusia memproduksi sebesar 399,8 juta ton pada 2020.

Adapun kontribusi pasokan batu bara asal Rusia ini sebesar 5,2 persen dari total produksi batu bara dunia sebesar 7,74 miliar ton.

Akibat perang ini, pasokan batu bara dari Rusia diperkirakan akan terhambat.

Imbasnya, beberapa negara, khususnya dari Eropa hingga China mencari alternatif pengganti dari negara lain, salah satunya Indonesia.

Dari catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) China belum bisa melakukan impor batu baranya dari Rusia, yang mana Rusia memberikan ekspor batu baranya ke China hingga 17 persen dari total produksi batu baranya sebanyak 420 juta ton tahun ini.

BACA JUGA:  Kasus Korban Begal Yang Ditetapkan Sebagai Tersangka Dihentikan ''SP3''

Selain ke China, Rusia juga mengekspor batu baranya ke beberapa negara di Eropa sebanyak 31 persen dari total produksi batu baranya.

Akibat dari seretnya pasokan batu bara di sejumlah negara Eropa dan China, batu bara Indonesia sedang diburu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, di tengah terganjalnya pasokan batu bara Eropa dari Rusia, terdapat calon pembeli dari beberapa negara di Eropa yang sedang menjajaki atau mencari suplai batu bara dari Indonesia.

“Negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur yang selama ini menjadi importir batu bara daru Rusia,” terang Hendra kepada wartawan

Mengutip CNBC International, Kamis (10/3/2022), Anthony Nafte dari CLSA mengatakan bahwa harga komoditas telah melonjak sejak Rusia perang dengan Ukraina.

Bagi Nafte, naiknya harga komoditas akan menguntungkan bagi Indonesia karena ekonominya di gerakan oleh komoditas.

“Lebih dari 50 persen ekspor mereka berasal dari komoditas, dan sekarang Anda sudah mendapatkan posisi di mana harga komoditas akan bertahan lebih tinggi lebih lama,” kata Nafte.

Dia mengatakan, misalnya, Rusia saat ini merupakan pemasok batu bara terbesar kedua ke China dan gangguan dapat mendorong Beijing untuk beralih ke Indonesia untuk mengisi kesenjangan.

“Indonesia akan diuntungkan dari efek harga tetapi juga dari segi volume,” kata Nafte.

                                Nikel

                           Biji Nikel Indonesia

 

Selain batu bara, Indonesia dinilai juga bisa menjadi pengganti pemasok nikel asal Rusia yang tersendat akibat Perang Rusia-Ukraina.

Hal ini dikarenakan pasokan nikel Indonesia pada tahun ini diperkirakan akan bertambah, khususnya untuk jenis logam nikel kelas 1 yang diproduksi Rusia, berupa nickel matte, nikel sulfat, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), maupun Mixed Sulphide Precipitate (MSP) yang kadar logamnya telah mencapai 99,9 Persen.

BACA JUGA:  Ajak Memakmurkan Masjid Dedy Wahyudi Serahkan 2 Unit AC

Produk nikel kelas 1 ini biasanya dijadikan bahan baku untuk baterai kendaraan listrik.

Hal tersebut diungkapkan Steven Brown, Konsultan Independen di Industri Pertambangan berbasis di Australia.

Steven mengatakan bahwa logam nikel yang diproduksi Rusia merupakan nikel kelas 1 dan pasokan nikel Rusia ini tak bisa digantikan oleh negara lain, kecuali Indonesia.

“Rusia adalah pemasok Class 1 Nickel paling besar di dunia. Negara lain tidak mungkin bisa menutup pasokan ini, kecuali Indonesia,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Minggu (13/03/2022).

                              Tembaga

Perang Rusia-Ukraina juga berdampak pada ekspor tembaga Rusia. Rusia merupakan salah satu eksportir tembaga terbesar di dunia.

Mengutip situs News Metal, produksi logam tembaga Rusia berkontribusi sebesar 4 persen dari produksi tembaga dunia. Tembaga produksi Rusia banyak diekspor ke Asia dan Eropa.

Lantas, apakah Indonesia berpotensi meraup peluang pasar tembaga tersebut?

Perlu diketahui, smelter tembaga di Indonesia saat ini hanya terdapat dua smelter, yakni PT Smelting di Gresik, Jawa Timur yang merupakan smelter tembaga terbesar saat ini dan smelter PT Batutua Tembaga Raya di Maluku.

PT Smelting merupakan pabrik pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga berkapasitas pengolahan konsentrat tembaga sebesar 1 juta ton per tahun dan memproduksi sekitar 300 ribu ton katoda tembaga per tahunnya.

PT Smelting merupakan perusahaan patungan antara PT Freeport Indonesia dan Mitsubishi Materials Corporation (MMC).

Sementara smelter PT Batutua Tembaga Raya hanya memproduksi sekitar 25.000 ton katoda tembaga per tahun.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, produksi katoda tembaga RI pada 2021 sebesar 289,5 ribu ton, naik dari 268,6 ribu ton pada 2020.

BACA JUGA:  LPSK Berikan Kompensasi Kepada 9 Korban Teroris Masa Lalu

Pada 2022 ini, produksi katoda tembaga ditargetkan naik menjadi 291 ribu ton. (**)

Sumber klik disini

Print Friendly, PDF & Email

Check Also

Tragedi Berdarah Stadion Kanjuruhan Urutan Kedua Dunia, Ini Kronologinya

JAWA TIMUR – Korban meninggal akibat kerusuhan suporter kala laga Arema FC melawan Persebaya masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!